Enaknya Makanan Jepang

Tidak sabar namun setia menahan lapar, itu yang saya alami setiap kali punya rencana akan ke restoran Jepang. Tidak sabar ingin segera menyantap makanannya, namun rela untuk tidak sarapan, hanya agar bisa menyantap hidangannya sebanyak mungkin. Jika begini, ungkapan kelaparan dan kemaruk tidak bisa dibedakan.

Di Indonesia, kuliner Jepang sudah berfungsi sebagai salah satu alat diplomasi. Di Jakarta, restoran Jepang bisa ditemukan dalam skala yang berbeda-beda. Dari yang kelas hotel bintang lima hingga kios-kios kecil yang banyak dijumpai di kampus, atau di bazar dan pameran. Banyaknya restoran atau rumah makan yang menawarkan makanan Jepang ini tentu saja memberikan pilihan bagi konsumen.

Mau menyantap yang kuliner asli atau makanan yang sekadar dimasak ala Jepang? Namun menyantap makanan yang dimasak ala kadarnya akan membuat konsumen kehilangan informasi dan pengalaman tentang bagaimana kuliner jepang sesungguhnya. Menu masakan Jepang yang telah dikenal masyarakat sangat banyak. Dari sukiyaki, shabu- shabu, yakiniku, tempura, hingga yang mentah yakni sushi dan sashimi. Apa pun yang ditawarkan, semua disukai konsumen karena kuliner Jepang identik dengan kesegaran, kelezatan, dan sehat.

Citra positif ditambah penampilannya yang simpel, membuat restoran Jepang bisa berkembang di seluruh dunia. Apalagi mata dunia juga melihat warga Jepang mempunyai angka harapan hidup yang sangat tinggi. Angka harapan hidup Jepang mencapai 82,25 pada tahun 2011. Bandingkan dengan Australia 81,81; Amerika 78,37; sedangkan Indonesia 70,76. Citra kesegaran, kesehatan, kelezatan, dan keramahan inilah yang melekat di resto Jepang yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Coba tengok di resto Jepang Yoshi yang terletak di Granmelia Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan.

Chef Tomoaki Ito menyapa tamunya dengan ramah. Dari mulutnya tertutur informasi mengenai beragam makanan dari Jepang. ”Sushi dan sashimi itu memang makanan sehari-hari masyarakat Jepang. Sup miso juga selalu bisa ditemui di meja makan setiap rumah tangga di Jepang,” tutur chef Ito. Chef Ito juga bercerita tentang Kinoko Foilyaki, yakni rebusan lima macam jamur. ”Sebenarnya ini bukan sup. Tetapi karena masyarakat di sini sering menyebut sayur berkuah bening sebagai sup, akhirnya disebut sup jamur,” kata dia. Kelima macam jamur ini direbus di dalam aluminium foil dengan cita rasa yang didapat dari saos Jepang. Rasanya ringan namun sangat menyegarkan. ”Memang beginilah masakan jepang. Dia tidak memakai bumbu yang terlalu kuat. Namun jika harus asin, maka hanya kecap asin yang dipakai. Jika memang manis, ya hanya kecap manis yang digunakan. Tidak ada setengah-setengah. Ringan tetapi tegas,” jelasnya.

Di resto Jepang Umaku, kebiasaan berbincang-bincang dengan pelanggan juga menjadi tradisinya. Chef Uki, juru masak utama di resto Umaku, mengaku berbincang-bincang dengan pelanggan sambil menyiapkan makanan menjadi hal yang paling menarik. ”Biasanya, kalau ada customer yang enak diajak ngobrol, chef akan memberikan complementary. Ini kebiasaan resto-resto di Jepang,” ujar chef Uki yang berguru langsung pada chef Jepang dan berkeliling Jepang untuk belajar tentang sushi dan sashimi. Dia menceritakan, pernah mendapatkan ikan tuna seberat 60 kilogram, lalu dia bagi-bagikan ke tamu yang saat itu sedang bersantap di resto Umaku.

Menurut chef Uki, di Jepang tempat duduk paling favorit adalah di bar yang berhadapan langsung dengan meja kerja chef. Selain bisa berbincang-bincang, pelanggan juga bisa melihat chef mempersiapkan makanannya. Adegan koki yang terampil mengiris ikan, mengaduk, mencampur, dan menggulung nasi dijadikan sushi tidak ubahnya seperti orang yang sedang menari dengan indah. Umaku memiliki outlet di Citragran Cibubur, Tebet, Duren Tiga, dan Alam Sutera.

Konsep Umaku memang tidak membuka cabang di pusat perbelanjaan atau mal. Semua outletnya di rumah makan kecil atau ruko karena ingin menghadirkan suasana rumah di restoran itu. Menurut David Artigue, Director of Food & Beverage Granmelia Hotel, konsep makanan Jepang sangat berbeda dengan makanan Barat. Makanan Barat itu berkesan pesta, perayaan, dan penuh kegembiraan. Sedangkan makanan Jepang lebih ke kesehatan, kesegaran, dan simple, seperti masakan di rumah.

sumber : http://www.wartakotalive.com/mobile/detil/97927

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s